budget traveling, tips

Newbie Backpacker: Pengalaman Pertama ke Luar Negeri

Ini merupakan pengalaman pertama bagi saya dan baby Aisy ke luar negeri, yaitu ke Kuala Lumpur (KL), sedangkan suami meskipun belum pernah ke KL setidaknya pernah ke Singapura sebelumnya.

Yang namanya pengalaman pertama, pasti rasanya nano-nano, ada rasa senang, takut, khawatir, penasaran, excited, semua nyampuurr jadi satu. Begitu juga dengan perjalanan perdana kami ke KL ini.

Kami ke KL dengan memanfaatkan promo free seat dari salah satu maskapai penerbangan, jadi kami cukup membayar airport tax saja, yaitu sebesar 100-150 ribu per pax. Supaya lebih hemat, saat itu kami juga sengaja tidak membeli bagasi, hehe.

Perjalanan pun dimulai..

Alhamdulillah perjalanan menuju KL dari Indonesia berjalan cukup lancar. Selama di imigrasi kami hanya perlu menunjukkan paspor saja dan tidak ditanyai macam-macam. Selain itu barang bawaan kami juga tidak perlu dibongkar, karena sebelum berangkat kami memang telah mempelajari regulasi tentang barang-barang yang tidak boleh masuk kabin.

Baca Juga: 7 Tips Agar Traveling Semakin Hemat

Akhirnya kami mendarat di Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA2). Dari bandara, kami menuju ke KL sentral dengan Aerobus seharga 11 MYR.

Tujuan utama kami adalah mencari penginapan yang telah kami booking sebelum ke KL. Kami booking penginapan via www.zenrooms.com, karena harganya sangat murah, yaitu hanya 70 ribu per malam.

Baca Juga: My Zenoliday, ‘Penyelamat Kantong Dikala Liburan

Dari KL Sentral, kami naik monorail seharga 3.70 MYR/orang. Awalnya kami tidak tahu cara membeli token monorail, setelah bertanya pada bagian informasi, ternyata token bisa didapatkan pada mesin yang tersedia. Lagi-lagi saat itu kami juga tidak tahu cara menggunakan mesin tersebut. Akhirnya kami pun diam-diam melihat orang yang sedang membeli token bagaimana caranya menggunakan mesin tersebut, wkwk.

Sumber: kuala-lumpur(dot)ws
Sumber: kuala-lumpur(dot)ws

Tidak lama kemudian monorail tiba. Saat itu monorail cukup penuh karena sedang peak hour. Kami turun dari monorail di daerah Chow Kit, karena penginapan yang kami booking berada disana.

Sesampainya di stasiun pemberhentian, kami benar-benar tidak tahu harus kemana. Ketika tanya orang jawabannya berbeda-beda. Maklum saja, disini banyak pendatang yang belum tentu hafal jalanan di KL. Namun karena jawaban yang berbeda-beda, kami harus berjalan saaaaangaaaattt jauh (ada yang bilang kesini, ada yang bilang kesana, pokoknya benar-benar ‘dibuat’ mondar-mandir).

Memang kami terlalu nyantai saat sebelum berangkat. Saya santai karena merasa ada suami, suami juga nyantai karena merasa ada saya, haha.

Dan ternyata begitu sampai sama-sama bingung harus kemana. Mau asal naik bus tidak tahu rute dan caranya, pokoknya saat itu kami memang tidak ada persiapan sama sekali, wkwk.

Ditambah lagi kami tidak bisa mengakses internet untuk sekedar melihat map, karena kami memang tidak membeli paket yang tarifnya luar biasa, hehe. Saat itu rasanya kapook traveling ke luar negeri.

Semakin jauh kami jalan, semakin sepi jalanan. Akhirnya kami memutuskan untuk berbalik arah lagi, dan mencoba tanya orang yang berada di halte bus. Kami bertemu dengan seorang wanita timur tengah, dia menyarankan untuk naik GoKL (moda transportasi gratis dari pemerintah Malaysia) saja.

Sumber: kuala-lumpur(dot)ws
Sumber: kuala-lumpur(dot)ws

Akhirnya kami pun naik GoKL rute Red Line. Ternyata di GoKL terdapat fasilitas free wifi, sehingga kami bisa menggunakan google map untuk mencari hotel yang telah kami pesan.

Sesampainya di hotel ternyata kami mendapatkan family room jadi benar-benar luas dan nyaman.

Baca Juga: Review Zen Rooms Chow Kit, KL

Sesampai di kamar kami langsung makan, sholat, dan istirahat. Kondisi kami saat itu benar-benar capek, dehidrasi, dan lemas.

Keesokan harinya kami jalan-jalan keliling KL dengan GoKL (mumpung gratis, kami mencoba semua rute yang ada-Blue, Green, Red, dan Purple Line) dari jam 2 siang hingga jam 8 malam.

Go-KL Citybus Map, Sumber: kuala-lumpur(dot)ws
Go-KL Citybus Map, Sumber: kuala-lumpur(dot)ws

Saat itu kami juga menyempatkan diri untuk mampir di salah satu icon negeri Jiran, yaitu Petronas Twin Tower yang berada di KLCC (Kuala Lumpur Convention Center).

Twin Tower
Twin Tower

Kami sampai di hotel pukul 8 malam. Begitu sampai kami langsung packing, karena mengejar bus GoKL terakhir (jam 12 malam).

Kami pun check out dan menunggu bus GoKL. Namun ternyata bus tersebut tidak kunjung datang. Kami menunggu sampai jam setengah 1 dini hari. Panik dan bingung, karena saat itu tidak ada koneksi internet, jadi tidak bisa searching moda transportasi yang bisa kami gunakan untuk sampai ke KL Sentral.

Akhirnya kami terpikir untuk pakai taksi online saja. Kami pun kembali ke hotel untuk menggunakan wifi hotel.

Kami pun mencoba instal beberapa aplikasi taksi online dan membandingkan harga antar platform. Akhirnya ketemu juga yang murah. Untuk menuju KL Sentral kami hanya perlu membayar sekitar 7-9 MYR. Dan ternyata kami mendapatkan kode kupon diskon 10 MYR yang bisa kami gunakan.

Tidak sampai 10 menit, taksi pun datang. Awalnya kami sempat takut naik taksi online. Apalagi di negeri orang dan sudah larut malam. Ditambah drivernya berambut gondrong dan berkacamta. Kami sudah mikir yang tidak-tidak, sampai-sampai saya minta suami untuk mengecek bagian belakang/bagasi mobil, haha. Parno sama berita taksi begal, hehe.

Sekitar 10 menit kemudian kami tiba di KL Sentral dengan selamat. Dan drivernya ternyata ramah, hihi. Oiya, Alhamdulillah ternyata kami tidak perlu membayar sepeser pun, karena memasukkan kode kupon, hihi.

Kami pun menunggu Aerobus untuk menuju bandara. Aerobus baru mulai beroperasi pukul 3 dini hari waktu setempat. Tiket Aerobus bisa dibeli di loket Aerobus lantai dasar KL Sentral.

Sambil menunggu, kami mengambil uang di ATM Malaysia yang juga telah cukup banyak cabangnya di Indonesia. Dan ternyata, ketika mengambil uang kami tidak terkena potongan/charge lho, mungkin karena suami nasabah bank tersebut.

Tepat pukul 3 dini hari, kami menuju ke bandara KLIA2. Sepanjang perjalanan kami tertidur karena tidak tidur semalaman. Pukul setengah 5 pagi kami sampai di bandara.

Kami pun menuju ke counter check in. Petugas bandara memberi catatan untuk boarding dari gate P13, padahal di berbagai layar informasi tertulis gate L8 *kami sampai melihat setiap layar informasi, dan memang tertulis L8 bukan P13.

Sebenarnya kami merasa ada yang janggal, tapi kami tetap ke gate P13. Gate P ini termasuk gate yang paling jauh letaknya dari counter check in.

Kami pun menunggu di gate P13. Sampai akhirnya sekitar 20 menit sebelum boarding kami dapat info kalau ternyata kami salah gate, yang benar adalah gate L8.

Lemes rasanya, karena bandara KLIA2 itu ampuunn luas banget. Jadi benar-benar bikin capek dan not recommended untuk kelompok priority, salah satunya ibu yang membawa anak kecil.

Dari imigrasi ke Gate P, kita harus berjalan kaki ±20 menit, kebayang kan jauhnya? Sumber: klia2(dot)info
Dari imigrasi ke Gate P, kita harus berjalan kaki ±20 menit, kebayang kan jauhnya? Sumber: klia2(dot)info

Saat itu kami dan ±10 penumpang yang lain lari-lari sambil membawa bayi/anak dan barang bawaan. Alhamdulillah ada shuttle ‘car’ (apa ya istilahnya?) sehingga kami bisa mengejar keterlambatan kami.

Kami pun tiba di gate L8. Saat itu penumpang yang lain sudah antri untuk masuk ke pesawat. Tidak terbayang rasanya kalau kami harus ketinggalan pesawat.

Alhamdulillah kami sampai di Indonesia dengan selamat. Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan.

Berikut ini adalah rincian pengeluaran selama perjalanan ke KL per orang.

1 MYR saat itu Rp 3.300,-
• Tiket pesawat PP: Rp 100.000,- + Rp 142.500,- = Rp 242.500,-
• Aerobus PP: 11 MYR x 2 = Rp 72.600
• Monorail: 3.70 MYR = Rp 12.210,-
• Penginapan (Zen Rooms Chow Kit): Rp 70.000 x 2 malam/2 orang = Rp 140.000,-/2 = Rp 70.000,-
• Nasi Goreng: 5 MYR = Rp 16.500,-
• Teh Tarik: 1.5 MYR = Rp 4.950,-
• Mie Instan, promo 5 bungkus: 3.5 MYR = Rp 11.550,-
• Air Mineral: 1,5 MYR = Rp 4.950,-
Total: Rp 435.260,- per 2 hari 2 malam all in (tiket, akomodasi, makan, dan minum). Jadi per harinya cuma Rp 217.630,-.

Hemat banget kan ya, untuk sekelas traveling ke luar negeri?

Dari pengalaman ini, saya jadi bisa menyimpulkan kalau traveling itu tidak selamanya mahal. Asalkan kita pintar-pintar menghemat pengeluaran, terutama akomodasi (tiket pesawat dan hotel), yang biasanya menyebabkan anggaran membengkak. Sejak saat itu, promo free seat maskapai dan juga Zen Rooms menjadi andalan kami saat traveling. Terimakasih Zen Rooms^^

Salam,

♥Dina Safitri♥

21 thoughts on “Newbie Backpacker: Pengalaman Pertama ke Luar Negeri

  1. Pengalaman bertanya di Malaysia memang ngeselin mba. Entah mengapa banyak yang gak tahu begitu disebutkan nama jalan atau tempat. Mungkin mereka juga orang baru ya?

  2. Wah ini bener – bener hemat mbak :), btw teh tariknya murah banget ya nggak sampe 5000. Di Indonesia aja, di Jakarta harga teh tarik paling murah yang saya pernah beli 10000 🙂

  3. “Saya santai karena merasa ada suami, suami juga nyantai karena merasa ada saya, haha.”

    kok lucu sih mbak wkwkwkkw..tapi kan nyasarnya ga sendiri jadi masih bisa tenang, kalo nyasar sendiri pas traveling itu baru sedihh hehehe. Ternyata lumayan ya traveling bisa sesuai budget dan ga mahal2 bangett..duh jadi pengen traveling saya hehhehehe

Leave a Reply