Healthy, Motherhood, My Family, Tips

Mengatasi Bisul Pada Anak (Balita)

mengatasi bisul pada anak

Assalamu’alaikum.. Halo semuanya, kali ini saya mau sharing tentang cara mengatasi bisul pada anak. Qaddarullah Aisy (anak pertama saya) semenjak lebaran 2 tahun yang lalu (tahun 2016) sangat sering terkena bisul. Dan bisulnya itu banyak dan besar-besar, hiks. Sudah berkali-kali ganti dokter mulai dari dokter anak, dokter umum, baik lagi ke dokter anak yang lain, ke dokter umum yang lain, begituuuuu terus, sampai kami bingung bagaimana cara mengatasi bisul pada anak kami.

Aisy (saat itu berusia hampir 1,5 tahun lebih) sepertinya tidak alergi terhadap kacang, karena sebelum-sebelumnya kami (saat itu dia masih menyusui) baik-baik saja meski habis makan banyak kacang. Hingga suatu ketika, setelah kami makan banyak kacang bawang, saya terkena bisul. Kacang bawang tersebut kami beli mentah di toko yang menjual bahan-bahan untuk kue dan roti, bisa jadi mungkin kacangnya kurang higienis. Bisul yang saya derita saat itu hanya 1 tapi qaddarullah besar dan bengkak karena tidak ditreatment (kompres hangat) dengan baik. Pada awalnya saya tidak tahu sama sekali kalau itu bisul, karena sejauh yang saya ingat, masyaAllah di masa kecil sampai saat itu saya belum pernah menderita bisul, jadi belum tahu kalau itu bisul, belum tahu ciri-ciri bisul, belum tahu kalau ternyata bisul semenyiksa itu, dsb.

Baca juga: Curhatan Mahasiswa TPHP

Setelah bisul saya sembuh (dengan sendirinya), qaddarullah Aisy mengalami hal yang sama. Saya lupa dimana bisul pertamanya, kalau tidak salah di dahi dekat rambut. Yang jelas bisulnya juga besar dan sepertinya sangat menyakitkan. Awalnya kami home treatment saja, namun karena tidak kunjung sembuh, akhirnya kami bawa berobat. Saat itu dokter anaknya hanya meresepkan salep antibiotik dan nggak ngefek, qaddarullah. Sebelumnya Aisy juga diberi salep hitam, juga nggak ngefek, huhu.

Hingga akhirnya sembuh, selang beberapa hari muncul lagi bisulnya. Hilang satu, tumbuh lagi, beegitu terus, hiks. Akhirnya kami berobat lagi, dan diresepkan sirup kering cefixime dan salep. Qaddarullah nggak sembuh juga. Berobat lagi ke dokter anak yang lain, saya jelaskan riwayat obat-obat yang Aisy konsumsi, sehingga akhirnya dicobakan antibiotik dosis tinggi, yaitu cefadroxil, hiks. Biidznillah kalau Aisy minum cefadroxil, bisulnya bisa sembuh dan mengempes sendiri. Cuma saya khawatir dengan efek sampingnya jika digunakan jangka panjang.

Oh iya, setiap kali periksa, saya menceritakan awal mula Aisy terkena bisul, yaitu karena konsumsi kacang. Namun, kata para dokter, bisul itu bukan reaksi alergi terhadap makanan, tapi disebabkan karena adanya infeksi bakteri Staphylococcus aureus, intinya karena kurang menjaga kebersihan. Tapi jujur saya masih heran dan kurang percaya, hihi. Soalnya masyaAllah Aisy ini sukaaa banget mandi, kadang bisa sampai 4x sehari mandi, setiap mandi pagi dan sore saya keramasin dan air kamar mandi saya beri cairan desinfektan. Sprei dan sarung bantal guling juga diganti secara berkala, mainan tanah, pasir, dan yang kotor-kotor lainnya bisa dibilang juaraaanggg banget, di rumah juga nggak ada hewan peliharaan, dsb.

Namun karena saya akhirnya menyakini (setelah konsul ke beberapa dokter dan membaca artikel kesehatan yang terpercaya), bahwa bisul itu muncul akibat infeksi bakteri. Sehingga kami nggak terlalu strict dengan