#BPN30DayChallenge2018, Curhat

3 Hal Yang Menjadi Penyesalan Saya

Hal yang disesalkan

Penyesalan selalu datang di akhir, kalau di awal namanya pendaftaran

Namanya manusia pasti pernah melakukan khilaf baik disengaja maupun tidak. Dan umumnya kekhilafan ini akan berujung pada penyesalan. Tugas kita selanjutnya setelah menyesal adalah bagaimana caranya agar kita bisa memanage penyesalan tersebut ke arah yang positif.

Jangan sampai membuat kita selalu menyalahkan diri, terus berpikiran negatif dan bahkan nggak bisa move on dari hal tersebut, wal iyadzu billah.

Hal yang disesalkan

Pada postingan kali ini saya mau menuliskan tentang 3 hal yang sampai saat ini masih saya sesali, qaddarullah, yaitu:

1. Belum Sempat Meminta Maaf

Saat itu saya duduk di kelas 2 SMP. Saya bersama dengan ibu dan kakak perempuan saya sholat ‘ied tidak terlalu jauh dari rumah kami. Sepulang sholat, biasanya kami saling bermaaf-maafan. Yah, walaupun sebenarnya saling memaafkan bisa kapan saja, tapi saat itu momen lebaran dijadikan sebagai ajang saling memaafkan di keluarga kami.

Ketika  tiba  giliran saya meminta maaf kepada ibu saya, saya yang dasarnya suka bercanda (huhu) pura-pura nggak mau minta maaf. Dan waktu silih berganti, candaan itu menjadi penyesalan yang teramat dalam bagi saya.

Selang beberapa bulan setelahnya, qaddarullah ibu saya menjadi salah satu korban tsunami di Aceh. Lidah kelu terasa karena kesempatan untuk meminta maaf secara langsung sudah tidak akan mungkin terjadi lagi, biidznillah. Inilah penyesalan terbesar seumur hidup saya. Semoga Allah  mengampuni saya dan ibu, menyayangi ibu saya dan kelak kami dikumpulkan kembali di JannahNya. Aamiin.

2. Batal Makan Sate Gurita

Ceritanya saat ke Banda Aceh hampir sekitar 1 tahun yang lalu, kami mampir ‘main’ ke Sabang selama 2 hari 2 malam. Selama 4 tahun di Aceh, kami memang belum pernah ke Sabang, hihi. Saat itu bertekad sebelum meninggalkan Aceh pinginnya bisa jalan-jalan dulu sekeluarga ke Sabang, Alhamdulillah Allah beri kemudahan.

Setelah googling, ternyata makanan khas Sabang adalah sate gurita. Seumur-umur saya belum pernah makan gurita, jadi penasaran banget gimana rasanya. Hari pertama di Sabang kami coba cari di kota, nggak terlalu jauh dari kantor BPS Sabang, tapi qaddarullah saat itu belum jualan (biasanya adanya malam hari).

Mau nungguin buka juga nggak bisa, soalnya harus berburu penginapan sebelum hari semakin larut. FYI, saat itu kami kesananya sedang peak season, jadi penginapan-penginapan yang ada di google udah full booked. Beneran pengalaman banget susahnya dapetin penginapan offline di Sabang, hehe.

Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan menuju Iboih, kami nginap di homestay yang deket banget sama hutan-hutan (Cuma tinggal beberapa km aja menuju ke 0 kilometer). Jangankan sate gurita, beli nasi bungkus aja jauuuhhh beud.

Siangnya saat akan kembali ke Banda Aceh, kami cari-cari sate gurita. Akhirnya ketemu satu warung yang buka di siang hari. Udah tanya harga tapi kata suami kayaknya kemahalan, akhirnya coba cari-cari yang lain. Dan ternyata nggak ada lagi warung sate gurita yang buka, wkwkwk. Mau balik ke warung pertama waktunya udah mepeett banget sama jam keberengkatan kapal. Akhirnya batal deh makan sate gurita, wkwkk.

3. Pesanan dibatalkan

Yang paling bikin nyesel itu, ketika berhasil dapat barang promo tapi kelupaan mau bayar dan batas waktu pembayaran udah habis, huhuhu. Kayak waktu event 11.11 kemarin, udah dapet 5 item seharga masing-masing 11 ribu, qaddarullah kelupaan nggak dibayar. Akhirnya order otomatis tercancel by system, huhuhu. Waktu 12.12 kemarin juga sempat dapat facial foam seharga ratusan ribu cuma bayar 12 ribu, ehhhh qaddarullah kelupaan nggak dibayar juga, hiks hiks.

Ada yang sama juga nggak? 😀

Salam,

Dina Safitri

Tagged , ,

About Dina Safitri

Moslemah, an ISFJ personality, lifestyle blogger, mom of 2H. For business inquiries kindly contact me at: me@mbakdina.com or WA +6282277355412
View all posts by Dina Safitri →

Hi, thanks for stopping by. Don't forget to leave your comment here, ok? :)