Blog Competition

Wastra Nusantara: Tenun Lurik dan Pemanfaatannya Sebagai Gendongan Bayi

 

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan suku yang majemuk serta memiliki begitu banyak warisan kebudayaan yang beragam antar daerah, yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Kebudayaan yang beragam ini merupakan warisan dari nenek moyang yang sudah sepatutnya kita jaga dan kita wariskan lagi kepada generasi setelah kita. Karena itulah esensi budaya yang sebenarnya, yaitu suatu cara hidup yang dimiliki bersama, dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Salah satu kebudayaan nusantara yang patut untuk kita lestarikan adalah wastra.

Wastra merupakan kata serapan dari bahasa Sansekerta yang berarti sehelai kain yang dibuat secara tradisional.

Wastra nusantara merupakan kain-kain tradisional yang berasal dari seluruh penjuru nusantara dengan warna dan corak yang sarat akan makna dan memiliki jenis yang beragam. Beberapa wastra khas nusantara diantaranya adalah kain tenun, ulos, songket, batik, dan sebagainya.

Sekilas tentang lurik

Lurik merupakan salah satu dari sekian banyak jenis kain tenun nusantara yang berasal dari masyarakat Jawa, salah satunya di Yogyakarta. Berdasarkan penemuan sejarah, diketahui bahwa lurik telah digunakan di Jawa sejak ribuan tahun yang lalu. Hal ini diketahui dari adanya kain lurik pakan malang pada Prasasti peninggalan Kerajaan Mataram (851-852 Masehi), disebutkannya kain tuluh watu sebagai salah satu nama kain lurik pada Prasasti Raja Erlangga Jawa Timur (1033 Masehi), serta adanya temuan pemakaian selendang pada arca terracotta asal Trowulan (Jawa Timur) pada abad 15 Masehi.

“Lurik” masih satu akar kata dengan kata bahasa Jawa lorek dan lirik-lirik, yang berarti bergaris-garis tetapi garisnya kecil-kecil (ukuran garis tidak boleh lebih dari 1 cm). Garis-garis pada kain lurik ini menggambarkan kesederhanaan, baik kesederhanaan dalam tampilan, maupun dalam proses pembuatannya, yang meskipun demikian tetap sarat akan makna.

Berdasarkan Ensiklopedi Nasional Indonesia, lurik adalah suatu kain hasil tenunan benang yang berasal dari daerah Jawa Tengah dengan motif dasar garis-garis atau kotak-kotak dengan warna-warna suram yang pada umumnya diselingi aneka warna benang. Sedangkan berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, lurik adalah kain tenun yang memiliki corak jalur-jalur.

Meskipun berdasarkan pengertian diatas lurik identik dengan coraknya yang bergaris-garis, namun terdapat juga kain lurik yang bermotif kotak-kotak dan juga polos. Lurik yang tidak bermotif (polos) sering dikenal sebagai lurik polosan.

Umumnya kain dikatakan sebagai kain lurik jika terbuat dari katun dan memiliki motif bergaris-garis dan dibuat dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Sehingga kain yang dibuat dengan mesin atau kain yang berasal dari benang polyester meskipun coraknya bergaris-garis tidak bisa dikatakan sebagai kain lurik, karena bukan berasal dari benang katun dan tidak ditenun.

Proses pembuatan lurik

Untuk menghasilkan kain lurik, dibutuhkan beberapa tahapan proses yang cukup panjang. Tak heran jika para pengrajin tenun harus menghabiskan waktu selama satu bulan untuk menghasilkan sekitar 50 meter kain tenun.

Urutan pembuatan tenun lurik dimulai dari pewarnaan benang, pencelupan, pengkelosarf, pemaletan, penghanian, pencucukan, penyetelan, kemudian penenunan.

Pembuatan tenun lurik
Pembuatan tenun lurik. Sumber: kain-lurik(dot)com

Inilah yang menyebabkan harga lurik lebih tinggi jika dibandingkan kain-kain biasa pada umumnya. Karena untuk menghasilkan sehelai kain dibutuhkan proses pembuatan yang panjang dan memakan waktu lama serta juga membutuhkan keterampilan khusus dan ketelitian dari pengrajinnya.

Corak dan nama lurik

Corak maupun motif lurik secara umum dapat dikelompokkan dalam tiga corak dasar, yaitu:

Pertama, Corak Lajuran, corak dengan lajur (garis-garis) membujur searah benang lungsi (searah dengan panjang kain).

Lurik lajuran
Kain lurik lajuran. Sumber: kain-lurik (dot) com

Kedua, Corak Pakan Malang, corak dengan lajur (garis-garis) membujur searah benang pakan (searah dengan lebar kain).

Ketiga, Corak Cacahan (Kotak-kotak), yaitu corak yang dibentuk dari persilangan antara corak lajuran dan corak pakan malang

Kain lurik cacahan
Kain lurik cacahan. Sumber: kain-lurik (dot) com

Dari ketiga jenis corak lurik tersebut, dapat dibuat berbagai macam variasi corak dengan membentuk kelompok maupun satu kesatuan kelompok benang dengan berbagai ukuran baik pada corak lajuran, pakan malang, maupun cacahan.

Penamaan corak biasanya didasarkan pada warna, susunan benang, serta lebar sempitnya bidang. Diantara nama-nama lurik yang cukup dikenal oleh masyarakat Yogyakarta adalah lurik yuyu sekandang, tumbar pecah, tebu sauyun, dom kecer, liwatan, dhengklung gedhog madu, dan lain-lain. Nama-nama lurik tersebut termasuk dalam kategori lurik klasik, yaitu lurik yang dibuat secara turun temurun dengan corak yang sama dari zaman ke zaman.

yuyu sekandang biru
Yuyu sekandang biru. Sumber: kain-lurik (dot) com
Lurik tumbar pecah. Sumber: kain-lurik (dot) com

Lurik sedikit demi sedikit mengalami pergeseran jaman akibat kondisi masyarakat yang dinamis. Hal ini menyebabkan beberapa motif dan corak lurik pun lama kelamaan punah karena sudah tidak diproduksi lagi akibat menurunnya minat masyarakat terhadap motif lurik tertentu. Akhirnya, pengrajin lurik pun mulai melakukan inovasi terhadap variasi corak dan warna lurik, mengikuti selera masyarakat kini. Dari sinilah kemudian muncul istilah lurik kontemporer. Beberapa nama lurik kontemporer antara lain, banyu biru, prawojo, rainbow, kelenting pelangi, dan lain-lain.

Lurik rainbow
Lurik rainbow. Sumber: kain-lurik(dot)com
Lurik kelenting pelangi
Lurik kelenting pelangi. Sumber: kain-lurik (dot) com

Selain itu, beberapa pengrajin lurik juga memproduksi lurik dengan corak hujan gerimis (udan liris), seperti udan liris abang, maroon, ireng, ungu cerah, orange, kuning, dan lain-lain.

udan liris maroon
Udan liris maroon. Sumber: kain-lurik(dot)com

Sebagaimana yang telah dikemukakan diatas, terdapat juga varian lurik yang tidak bercorak atau dikenal dengan lurik polosan. Diantara nama-nama lurik polosan antara lain, ketan ireng, coklat temul (temulawak), ireng polos, putih tulang, dan lain-lain.

Lurik polosan (ireng polos)
Lurik polosan (ireng polos). Sumber: kain-lurik(dot)com

Pemilihan nama pada kain lurik umumnya berdasarkan pada warna dominan maupun karakteristik dari corak tersebut. Misal corak telu-telu, dinamakan demikian karena terdapat 2 warna benang dan akan berganti warna setiap tiga (telu, bahasa Jawa) garis/lurik;

Corak lurik telu-telu
Lurik corak telu-telu. Sumber: Buku Garis-Garis Bertuah (dalam artikel) Tinjauan Lurik ATBM

corak dom (jarum, bahasa Jawa) kecer (tercecer, bahasa Jawa) karena motifnya seperti jarum-jarum yang tercecer;

Lurik dom kecer
Lurik corak dom kecer. Sumber: Buku Garis-Garis Bertuah (dalam artikel) Tinjauan Lurik ATBM

Terkadang penamaan lurik juga didasarkan pada pemakainya, misalnya: corak patang puluh karena digunakan oleh prajurit patangpuluh keraton Kasultanan Yogyakarta, corak jagakarya karena digunakan oleh prajurit jagakarya, dan lain-lain.

Pemanfaatan Kain Lurik Sebagai Gendongan

Dahulu, kain lurik biasa digunakan oleh masyarakat baik di dalam maupun di luar keraton sebagai busana sehari-hari seperti kemben, bengkung, stagen, kebaya, jarik, surjan, dan lain-lain. Selain sebagai busana sehari-hari, lurik juga kerap digunakan oleh prajurit keraton dan masyarakat dalam berbagai acara adat di Jawa.

Prajurit Kasultanan Yogyakarta
Penggunaan lurik sebagai pakaian prajurit Kasultanan Yogyakarta. Sumber: lembahsungaibedog (dot) co (dot) id

Adapun lurik yang berupa selendang (kain panjang) umumnya dimanfaatkan masyarakat Jawa untuk menggendong baik menggendong bayi maupun barang atau jamu dalam tenggok/wadah anyaman bambu (biasanya digunakan oleh pedagang di pasar). Sehingga dari sinilah kemudian muncul istilah lurik gendong. Umumnya kain lurik selendang memiliki panjang 250 cm dan lebar 50 cm.

Penggunaan lurik untuk menggendong tenggok jamu
Penggunaan lurik untuk menggendong tenggok jamu. Sumber: wikipedia; jamu gendong

Seiring berjalannya waktu, penggunaan kain lurik sebagai gendongan (terutama untuk menggendong​ bayi) mulai tergeser oleh selendang dari kain batik. Dan kemudian semakin tergeser dengan semakin banyaknya​ model-model gendongan instan yang beredar di masyarakat.

Namun agaknya pamor kain lurik sebagai gendongan kembali meningkat di masyarakat, terlebih semenjak sekitar tahun 2015. Hal ini juga dibarengi dengan semakin bertambah dan berkembangnya komunitas menggendong di Indonesia yang tergabung dalam grup Facebook Indonesian Babywearers (IBW), yang pada akhir tahun 2015 masih dibawah 500 anggota, kini sudah mencapai sekitar 18.000 anggota. Grup ini dibentuk untuk secara aktif mengedukasi masyarakat sekitar agar menggendong anak dengan baik dan benar.

Salah satu bahan yang direkomendasikan dan dinilai aman sebagai gendongan adalah kain tenun (hand woven), termasuk di dalamnya tenun lurik. Berikut ini beberapa foto yang diberikan kepada saya secara personal dari beberapa teman saya yang tergabung dalam grup IBW. Mereka dengan bangga menggendong buah hati tercinta dengan menggunakan kain lurik dalam keseharian mereka.

 

Gendongan woven wrap lurik

Gendongan woven wrap lurik

Dahulu, kakek nenek atau bahkan nenek moyang kita, jika menggendong dengan lurik, mereka menyisipkan kain tersebut di salah satu bahu agar gendongan kencang dan tidak mudah lepas.

Menggendong tenggok dengan lurik. Sumber: jogjaku(dot)web(dot)id

Namun sayangnya metode menggendong seperti ini lama-kelamaan akan menimbulkan rasa pegal dan tidak nyaman di bahu. Bandingkan dengan foto menggendong bayi diatas, bayi dan ibu terlihat lebih nyaman, bayi seperti dipeluk oleh ibunya, dan ibu tetap bisa menggunakan kedua tangannya untuk beraktivitas secara bebas meskipun sedang menggendong bayi.

Gendongan woven wrap lurik

Ya, perkembangan ilmu pengetahuan telah berdampak besar terhadap kehidupan kita, termasuk metode dalam menggendong bayi yang kini sudah cukup bervariasi. Selain bervariasi, tentunya menggendong seperti foto diatas dapat meminimalkan rasa pegal karena berat badan bayi (anak) terdistribusi tidak hanya pada 1 bahu saja, melainkan merata pada kedua bahu dan juga pinggang.

Dalam dunia pergendongan internasional, kain tenun yang digunakan untuk menggendong anak dikenal dengan istilah Woven Wrap. Umumnya lebar kain yang digunakan sebagai woven wrap adalah 70 cm. Sedangkan untuk panjangnya cukup bervariasi dan dinyatakan dalam satuan ukuran internasional (size) tertentu, yaitu size 2 (2,7 meter; hampir seperti panjang kain jarik), size 3 (3,1 meter), size 4 (3,6 meter), size 5 (4,2 meter), size 6 (4,6 m), size 7 (5,2 meter), dan juga size 8 (5,6 meter). Sebagaimana pada gambar di bawah ini:

Panduan ukuran woven wrapPanduan ukuran woven wrap. Sumber: Babywearing International

Penggunaan gendongan dari kain tenun (woven wrap) memberikan​ kenyamanan baik pada penggendong maupun yang digendong. Karena katun (bahan utama kain tenun) memiliki sifat yang lembut tapi kokoh, mudah menyerap keringat dan tidak panas serta lebih ekonomis dan perawatannya tidak terlalu sulit jika dibandingkan dengam kain tenun campuran (sutra, linen, dan lain-lain).

Penggunaan kain tenun lurik sebagai gendongan tentunya juga akan menambah pesona keindahan kain tenun lurik itu sendiri. Harapannya, kita mampu meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar kita dalam melestarikan keberadaan lurik dan kain tenun nusantara lainnya; salah satunya dengan kembali memanfaatkannya sebagai gendongan. Sehingga keberadaan lurik bisa kita lestarikan dan kita wariskan kepada anak cucu kita kelak. Karena sungguh sangat disayangkan melihat banyak pengusaha maupun pengrajin tenun di Yogyakarta yang akhirnya gulung tikar karena menurunnya minat masyarakat terhadap kain lurik.

Semoga kita bisa menjaga salah satu wastra nusantara yang sudah berusia ribuan tahun ini dengan sebaik mungkin. Jangan sampai wastra kita ini punah atau akhirnya diklaim oleh​ bangsa lain karena kita tinggalkan dan tidak kita lestarikan keberadaannya.

Sekian yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat^^

Menurut teman-teman, bagaimana sih cara yang paling tepat untuk mempromosikan pesona kain tradisional nusantara agar keindahan dan eksistensinya bisa dinikmati oleh anak cucu kita kelak?

Dan pernahkah teman-teman menggunakan lurik sebagai gendongan? Yuk bagikan pengalaman teman-teman di kolom komentar 🙂

Salam,

• Dina Safitri •


Sumber Referensi:

Lurik dan Fungsinya di Masa Lalu oleh Sri Wuryani dalam Majalah Ornamen Vol. 10 No. 1 tahun 2003

Artikel: Tinjauan Lurik ATBM (dalam) Galeri Lurik

www(dot)kain-lurik(dot)com

www(dot)modernbabywearing(dot)com


#SAHABATGOLD

#KisahIstimewaSAHABAT

#pesonaindonesia

Achievement Sahabat Gold

12 thoughts on “Wastra Nusantara: Tenun Lurik dan Pemanfaatannya Sebagai Gendongan Bayi

    1. Mungkin sekilas terlihat mirip ya, tapi ada 1 ciri khas & syarat lurik yang harus terpenuhi, yaitu lebar garis tidak boleh lebih dari 1 cm. Kalau yang di bali sepertinya garisnya lebih besar ya?

  1. Kalau menurut aku, mempromosikan kain lurik pada saat sekarang, dengan penggunaan kain lurik sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Contohnya untuk ibu yang memiliki balita, kain lurik bisa digunakan sebagai kain untuk menggendong. Atau kain lurik sebagai selendang pelengkap busana.

    1. Iya mba, ada grup fb-nya. Tapi sebenarnya bukan grup tentang membuat gendongan sih mba, tapi grup untuk berbagi tentang cara menggendong yang baik & benar, hehe.. iya mba, karena sebenarnya lebih nyaman pakai gendongan dari kain panjang (terutama tenun) karena bisa lebih pas di badan penggendong & yang digendong, hehe

  2. Ia mba, sekarang udah semakin kreatif ya penggunaan lurik, bahkan beberapa brand terkenal pakai lurik sebagai ‘hiasannya’, hehe

Hi, thanks for stopping by at mbakdina.com. Don't forget to leave your comment here, ok?^^