Blog Competition, curhat, kisah nyata, My Family & I

Pencacahan di Daerah Sulit dan Hadiah Spesial Untuknya

Dialah suami saya, orang yang paling saya sayangi semenjak takdir mempertemukan kami dalam ikatan pernikahan. Saya sangat-sangat menyayanginya karena dialah teman hidup saya baik dikala susah maupun senang, dialah yang membuat saya betah dimanapun kami tinggal (meskipun di daerah pelosok sekalipun), dialah teman yang paling setia mendengarkan segala keluh kesah dan juga ocehan-ocehan new mom seperti saya, dialah sosok yang bisa menerima saya dengan segala kekurangan yang saya miliki, dialah tulang punggung keluarga kecil kami sekaligus pemimpin dalam rumah tangga kami.

#ceritahepielevenia
Suami dan jaket kesayangannya

Dialah sosok suami yang keberadaannya selalu menghadirkan kebahagiaan dan rasa aman di tengah-tengah keluarga kami. Namun, dia jugalah sosok yang kepergiannya selalu meninggalkan rasa khawatir dan perasaan berat untuk berpisah, terutama jika ke daerah yang kurang ‘aman’, meskipun kepergiannya hanya satu hari saja.

Mungkin hal ini terlihat berlebihan, tapi tahukah teman-teman, bahwa hal terberat bagi orang yang saling mencintai dan menyayangi adalah ketika harus saling berpisah satu sama lain? Misalnya ketika harus melepas kepergian orang tercinta ke daerah yang jauh, daerah yang sulit dijangkau, daerah yang berbahaya, maupun daerah konflik, dan yang semacamnya.

Jujur, bagi saya, melepas kepergian suami adalah hal yang cukup berat bagi hati saya. Terkadang saya merasa salut dengan istri para tentara maupun relawan kemanusiaan yang berjuang di daerah krisis maupun konflik, istri para nelayan maupun angkatan laut yang terombang-ambing di lautan tanpa adanya sinyal, istri para angkatan udara maupun pilot, dan sebagainya yang bisa dengan lapang melepas kepergian suaminya demi mencukupi nafkah keluarga maupun berjuang untuk nusa dan bangsa. Rasanya masih jauh berbeda jika dibandingkan dengan saya yang masih harus terus belajar untuk bisa dengan lapang melepas kepergian suami, terutama jika ia harus bekerja di daerah sulit.

Kami saat ini tinggal di Aceh Tenggara, tepatnya sejak 8 Juni 2014 atau pada hari ke delapan setelah kami menikah. Kami tinggal di Aceh Tenggara karena suami ditempatkan bekerja di sana setelah lulus dari kuliah kedinasannya.

Aceh Tenggara sendiri merupakan salah satu kabupaten di provinsi Aceh yang berbatasan langsung dengan kabupaten Karo di provinsi Sumatera Utara. Dari segi geografis, Aceh Tenggara dikitari oleh deretan bukit barisan. Jika teman-teman berkunjung kemari, pasti teman-teman akan melihat deretan bukit barisan di seluruh penjuru mata angin. Sejauh mata memandang, pasti akan terlihat bukit yang tampak saling sambung menyambung satu sama lain.

#ceritahepielevenia
Deretan bukit barisan

Daerah tersulit di Aceh Tenggara terletak di kecamatan Lauser. Setidaknya untuk ke kecamatan Lauser dibutuhkan waktu sekitar 6 jam (pulang pergi) dari pusat kota Aceh Tenggara (Kutacane) dengan berkendara menggunakan sepeda motor. Jarak terdekat dari kota menuju kecamatan ini sekitar 40 km atau bahkan bisa lebih. Cukup jauh bukan?

#ceritahepielevenia
Jarak dari Kutacane menuju Kecamatan Lauser, via Google Maps
#ceritahepielevenia
Daerah sulit yang akan dituju (lihat arah jari telunjuk di foto). Foto ini diambil saat perjalanan menuju ke daerah sulit.

Tidak hanya itu, akses jalan menuju pedalaman Lauser ini juga cukup sulit ditempuh. Bahkan pada tahun 2014 lalu suami saya sampai terjatuh dari motor karena kondisi jalanan yang memang buruk. Terlebih jika hujan turun, jalanan tersebut tidak bisa diakses karena sangat licin dan berlumpur.

#ceritahepielevenia
Kondisi jalan di pedalaman Lauser
#ceritahepielevenia
Kiri: jembatan kayu, kelihatan kan hutannya?
Kanan: Ketika motor dinas suami menyeberangi jembatan kayu tersebut. Kalau saya sepertinya sudah takut duluan sebelum menyeberang, hehe

Ditambah lagi di sebagian daerah di kecamatan Lauser masih belum terpasang instalasi listrik, sehingga penerangan jalan hanya bersumber dari lampu kendaraan. Pun di beberapa daerah di Lauser juga tidak terjangkau sinyal seluler apapun, sehingga ketika suami sedang mencacah di daerah tersebut kami tidak bisa saling berkomunikasi.

#ceritahepielevenia
Hampir sepanjang jalan di daerah sulit tersebut berbatasan langsung dengan hutan.

Dan yang lebih mencekam, karena memang benar-benar di daerah pedalaman dan banyak hutan di sekelilingnya, sehingga banyak binatang-binatang liar yang berkeliaran (terutama jika sudah larut malam), seperti gajah liar, ular phyton, harimau Sumatera, dan lain-lain.

Baca juga: Lestarikan Hutan dengan HCSA Toolkit Versi 2.0

#CeritaHepiElevenia
Ular phyton yang ditangkap kepala desa setempat beberapa hari sebelum suami melakukan pencacahan disana.

Inilah yang membuat saya cukup ‘ketar-ketir’ jika suami harus pergi ke sana. Terlebih lagi semenjak kecil suami menderita penyakit asma yang berdasarkan penuturan suami dan juga kakeknya, penyakit asma suami saat ia masih kecil dulu tergolong cukup parah. Sering keluar masuk rumah sakit, bahkan pernah hampir sebulan penuh di rawat di rumah sakit. Sampai-sampai dulu keluarganya mengira bahwa umurnya tidak akan panjang, karena sakit-sakitan. Kami pernah sampai berobat ke negara tetangga untuk penyakit asma suami saya. Artikel tentang pengobatannya pernah saya tulis disini

Meskipun alhamdulillah saat ini kondisinya sudah tidak separah saat masih kecil dulu, tapi tetap saja ada rasa khawatir ketika berpisah dengan suami saya, misalnya jika suami sedang dalam perjalanan untuk dinas ke luar kota, terlebih lagi jika ke daerah sulit yang minim akan tenaga dan juga fasilitas kesehatan.

Selain itu, pasca tragedi tsunami Aceh 2004 yang menyebabkan saya (dan juga suami saya) kehilangan kedua orang tua saya, saya menjadi sangat trauma dan takut kehilangan orang-orang yang saya sayangi. Bahkan sampai ketika keluarga saya (nenek, kakak, dll) maupun suami dan anak saya tidur, terkadang saya mengecek apakah mereka masih bernafas (hidup) atau tidak, saking saya takut kehilangan mereka. Saya juga selalu berdoa dan berharap agar suami saya diberi umur panjang (kalau bisa sama atau melebihi umur saya) agar ia bisa melakukan berbagai kebaikan.

Baca juga: #memesona itu Ketika Mampu Bangkit Setelah Kehilangan Orang Tercinta

Namun bagaimanapun beratnya hati saya, bagaimanapun kondisi lapangan yang akan ditempuh, bagaimanapun sulitnya pekerjaan tersebut, tetap saja itu semua adalah tuntutan pekerjaan yang memang tidak bisa dielakkan lagi. Sehingga kami memang harus siap untuk menerima setiap resiko dari pekerjaannya ini. Dan juga, mau tidak mau memang pekerjaan ini harus dijalani dengan ikhlas, karena juga merupakan  suatu bentuk pengabdian suami terhadap negara yang telah memfasilitasinya selama kuliah dulu.

Suami saya saat ini bekerja di salah satu badan pemerintahan yang berfokus pada pengumpulan data-data penting pada berbagai sektor. Kebetulan suami saya diamanahkan untuk bekerja di bagian seksi sosial. Tentu saja perlu dilakukan berbagai survey maupun pencacahan untuk mendapatkan data-data tersebut, baik data sosial dari sampel suatu penduduk maupun data seluruh masyarakat.

Salah satu survey yang mengharuskan untuk pergi ke daerah sulit

Diantara survey yang mengharuskan suami saya untuk mencacah ke daerah sulit tersebut adalah survey yang berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan juga survey tentang pekerjaan, yang dalam satu tahun dibutuhkan setidaknya hingga empat kali pencacahan ke daerah sulit tersebut.

Baca juga: Bonus Demografi dan Pertumbuhan Ekonomi

Oleh karena itu, ingin sekali rasanya saya bisa berusaha semampu saya untuk melindungi suami saya dimanapun ia berada. Dengan membekali suami dengan ‘alat-alat tempur’ yang mumpuni untuk melakukan pencacahan ke daerah sulit tersebut. Misalnya seperti jaket anti air yang ringan namun bisa menjaga agar badannya tetap hangat (karena suami saya alergi dingin). Dan juga sepatu formal yang kuat tetapi ringan supaya nyaman untuk digunakan bekerja terutama ketika harus mencacah di daerah sulit.

Kedua barang tersebut merupakan barang-barang yang sangat dibutuhkan oleh suami saya saat melakukan pencacahan di lapangan. Namun sayangnya jaket dan juga sepatu formal yang dimiliki suami saya saat ini sudah kurang baik performanya, karena jaket yang digunakan oleh suami saya adalah jaket SMA kesayangan suami yang menurut saya sudah layak untuk dimuseumkan saja karena sudah berusia 10 tahun, hehe. Pun sepatu formalnya juga merupakan sepatu formal biasa yang menurut saya cenderung berat dan kurang kokoh jika digunakan untuk mencacah di daerah sulit, terbukti dengan rusaknya beberapa bagian sepatu setelah pulang dari pencacahan.

Hal ini membuat saya sangat ingin bisa menghadiahkan jaket dan sepatu baru untuk menunjang kinerja suami terutama saat pencacahan. Karena kesehatan dan keselamatannya sangat berharga bagi saya.

Saya pun akhirnya memutuskan untuk mencari barang yang saya inginkan di Elevenia. Sebagaimana taglinenya “klik, cari, hepi”, semudah itulah saya menemukan barang yang ingin saya jadikan sebagai hadiah untuk suami saya. Tinggal klik, cari, dan taraa, bahagia bukan main karena bisa dengan mudahnya menemukan item-item yang saya inginkan, diantaranya jaket dan sepatu ini:

#ceritahepielevenia
Sumber gambar: elevenia

Dan juga:

#ceritahepielevenia
Sumber gambar: elevenia

Semoga keinginan saya untuk memberi hadiah kepada suami tercinta bisa terwujud sehingga bisa membantunya saat melakukan pencacahan ke daerah sulit ♥

Kalau teman-teman semua, siapa sih orang yang paling teman-teman sayangi (serta alasannya) dan juga hadiah apakah yang ingin teman-teman berikan ke orang tersebut? Share yuk^^

Salam,

♥Dina Safitri♥


#ceritahepielevenia
Sumber: Instagram elevenia

Tulisan ini diikutsertakan pada Lomba Blog #CeritaHepiElevenia yang berlangsung pada 6 Maret – 5 April 2017. Tulisan ini adalah karya pribadi yang merupakan kisah nyata, orisinil, bukan jiplakan milik orang lain, serta belum pernah dipublikasikan di manapun. Gambar yang dicantumkan tanpa menyebutkan sumber berasal dari dokumentasi pribadi.

32 thoughts on “Pencacahan di Daerah Sulit dan Hadiah Spesial Untuknya

  1. Duuh aku jd inget pas dulu msh di aceh juga mba :). Aceh utara sih tapi.. Pas GAM masih berkuasa.. Tembak2an ama TNI di blkang rumah, temen2 kantor papa beberpa diculik dan ga ketemu ampe skr. Kita sekeluarga sampe pindah , tp papa ttp kerja di sana. Duuh, tiap hr mba cuma bisa doa supaya papa dilindungi dr orang2 jahatny :(. Ga terkena peluru nyasar, saking srg nya kejadian begitu. Alhamdulillah sampe masa kerja nya di perusahaan minyak sana berakhir, dan papa bisa kumpul lg dgn kita, baru rasanya legaaaa banget. Tp biar gitu, aku ttp kangen pgn balik k aceh.. Sjk kejadian itu ampe skr blm prnh lg :(.

    1. Wah mba, berarti dulu waktu kecil sempat di Aceh Utara ya? Keluarga suami sy beberapa ada di Bireuen, pas jaman GAM katanya memang lumayan sering terjadi baku tembak, ngeri banget ya mba.. Alhamdulillah bisa kumpul lagi dengan papanya ya mba, pasti tiap hari nggak tenang kalau lagi di daerah konflik gitu.. iya mba, aceh emang ngangenin banget♥

  2. Ya Allah mbak… jalannya ekstrim banget itu…
    Semoga tergapai mimpi sekaligus niatan baik untuk memberikan hadiah spesial bagi suami tercinta ya, mbak …
    Aminn….

    1. Ia mba, ekstrim banget, apalagi kalau habis hujan, kata suami licin banget.. aamiin, makasih mba Rohmah 🙂

    1. Ayo mba, dikadoin jaket baru buat suaminya, d elevenia banyak banget jaket2 keren, hehee
      Aamiin, terima kasih mba..^^

    1. Aamiin.. terimakasih doanya mba herva 🙂
      Betul mba, penuh perjuangan demi data untuk bangsa, cieee..wkwk

  3. woww,, agak ketar ketir juga ya mba kalo di padaleman, tapi kalau hrs tugas ya mau gk mau dijalanin ya mba,, yg penting sehat terus dan halal tentunya Allah pasti melindungi

    1. Iya mba, ketar-ketir banget malah, hihi.. iya mba, resiko dari pekerjaan yg emang mau ga mau harus dijalani, hehee.. aamiin, makasih mba utie 😉

    1. Iya mba, ngeri, hehe.. amannya pakai jeep, cuma susah juga sih kalau masuk2 ke daerah jalan setapak.. hehe… Aamiin, terima kasih mba 😉

    1. Iya mba, ngeri, apalagi jembatannya.. iya mba, kalau langsa udah kota ya mba, lumayan rame juga kotanya, soalnya paman suami juga ada yang di langsa, hehe

  4. aku jadi tahu daerah yang tersulit di Aceh. Gak aa bayangan sama sekali daerahnya bakal sesulit itu ya. Ngeri banget. Tapi doa dan hadiah dari istri pasti menguatkan hatinya ya, Mbak

    1. Iya mba, dina jogja a.k.a dinameauw, hihi… Wah ini mba sukses trz ya? Malah baru tahu nama aslinya disini, hihi.. dulu kenalnya di room ic ato ishlah ya mba? #maaplupa ;p

      Iya mba, habis nikah k aceh, hihi.. salam kenal (lagi) juga mba^^

Hi, thanks for stopping by at mbakdina.com. Don't forget to leave your comment here, ok?^^