Blog Competition, curhat, kisah nyata, My Family & I

#Memesonaitu Ketika Mampu Bangkit Dari Kesedihan Akibat Kehilangan Orang Tercinta

Jika ditanya arti #Memesona itu yang bagaimana, tentu akan ada begitu banyak versi dan jawaban, karena #Memesonaitu merupakan sesuatu yang relatif, yang bisa jadi berbeda antara orang yang satu dengan yang lain. Bagi saya sendiri, #Memesonaitu adalah ketika kita mampu bangkit dari kesedihan maupun keterpurukan yang kita alami, misalnya saat kita harus kehilangan orang yang paling kita cintai di dunia ini untuk selamanya. Karena saya tahu, untuk bangkit dari kesedihan itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan; dan itulah yang saya (13 tahun) dan kakak perempuan saya (14 tahun) alami saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Berusaha bangkit setelah kehilangan orang yang paling kami cintai.

Inilah sekelumit kisah tentang kesedihan yang kami alami hingga akhirnya kami bisa kembali bangkit.

Kedua orang tua saya bekerja di ujung barat Indonesia, tepatnya di kota Banda Aceh. Sedangkan saya dan kakak perempuan saya semenjak kelas 2 SD sekolah dan tinggal di Yogyakarta. Alasan mengapa kami tidak ikut tinggal di Banda Aceh karena Ibu saya khawatir akan psikologis dan pendidikan kami jika harus pindah sekolah (lagi). Pun ibu saya selama hampir 7 tahun-setelah kami pindah ke Yogyakarta-juga ikut membersamai kami tinggal di Yogyakarta karena disanalah beliau mengambil studi pascasarjananya. Hanya saja beberapa bulan setelah wisuda pascasarjananya, mau tidak mau ibu saya harus kembali bekerja di Banda Aceh lagi, sementara saya dan kakak saya tetap tinggal di Yogyakarta bersama dengan nenek kami.

#memesonaitu
Sekolah saya dan kakak saya saat masih tinggal di Tanah Rencong (1997-1999)

Di suatu pagi, tepatnya pada tanggal 26 Desember 2004, saya dan keluarga saya dikagetkan dengan berita yang ada di berbagai stasiun televisi di Indonesia. Dikatakan bahwa telah terjadi bencana dahsyat di provinsi Aceh, tempat orang tua kami bekerja. Mereka menyebutnya dengan Tsunami.

#memesonaitu
Pantai Lampuuk, Banda Aceh
#memesonaitu
Masjid Baiturrahman, Banda Aceh yang menjadi saksi bisu Tsunami Aceh 2004

Saat itu saya tidak tahu tsunami itu apa, saya juga tidak tahu bencana seperti apa yang menimpa keluarga saya di Banda Aceh. Datar. Itulah yang saya rasakan. Begitu juga dengan kakak perempuan saya, tidak ada air mata yang terurai dari mata kami saat itu. Mungkin saat itu kami masih terlalu lugu dan polos, dan berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa ibu saya akan pulang menjenguk kami seperti yang biasa ia lakukan.

Namun ternyata, semua yang saya kira salah. Kami tidak bisa menghubungi ibu sama sekali. Dan hari demi hari berlalu, namun ibu saya tidak kunjung pulang ke rumah untuk menjenguk kami. Paman, bibi, dan nenek kami terlihat begitu mencemaskan keberadaan ibu, serta masa depan kami jika tanpa orang tua disisi kami.

Kami sendiri masih bingung apa yang sebenarnya terjadi. Hingga akhirnya kami mendapat SMS dari kakek kami yang berada di Banda Aceh. Beliau berkata bahwa Kakek dan Nenek Alhamdulillah selamat, namun ayah saya meninggal dan ibu saya masih belum diketahui dimana keberadaannya (hilang).

Bak disambar petir di siang hari, mungkin itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan bagaimana kagetnya kami sekeluarga atas kabar yang kami terima ini. Sampai-sampai keluarga kami senantiasa melihat berita kalau-kalau bisa menemukan ibu saya dalam liputan berita tersebut.

Kehilangan ibu merupakan hal yang sangat berat bagi saya, terutama di usia saya yang masih sangat belia. Sebagai anak bungsu, saya dan ibu saya sangatlah akrab. Ibu adalah teman main saya, tempat bercerita, tempat berbagi, tempat untuk bermanjaan, dan lain-lain. Ibu itu segalanya bagi saya. Bahkan setiap kali ibu pulang dari Banda Aceh untuk menjenguk kami, saya selalu meminta untuk bisa tidur bersama ibu.

Entah firasat atau bukan, beberapa hari sebelum ibu akan kembali bekerja di Banda Aceh, saat itu ibu lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tak seperti biasanya, saya ikut menemani ibu lembur hingga dini hari. Ditambah lagi, ketika ibu saya akan menuju bandara untuk kembali ke Banda Aceh, saya sangat ingin bisa mengantar ibu saya, walaupun hanya dari halaman rumah saja. Namun ternyata saya mendapati ibu saya sudah pergi menuju ke bandara ketika saya sampai di rumah. Tidak seperti biasanya, saat itu saya merasa sangat sedih dan kecewa (hingga diam-diam saya menangis) karena tidak bisa mengantar kepergiannya, padahal saya sudah bergegas untuk segera sampai di rumah sepulang dari sekolah.

Hari demi hari kami lalui tanpa adanya sosok ibu lagi disisi kami. Hingga akhirnya, pada 1 Maret 2005 kami harus pindah ke rumah paman kami. Sedangkan rumah yang kami tempati rencananya akan dikontrakan untuk mencukupi kebutuhan hidup kami. Sedih rasanya meninggalkan rumah ini. Rumah yang meskipun baru 3 tahun kami tempati, namun begitu banyak kenangan indah di dalamnya, kenangan akan hangatnya kasih sayang seorang ibu.

Alhamdulillah paman kami sekeluarga sangat baik terhadap kami. Namun tidak bisa dipungkiri, perasaan sedih karena kehilangan orang tua masih begitu melekat pada diri saya dan kakak saya. Saya sendiri bukanlah tipe orang yang bisa menampakkan kesedihan kepada orang lain. Sehingga kesedihan-kesedihan tersebut saya pendam sendiri dan saya tuliskan dalam buku catatan harian (diary).

Saat itu (tepatnya saat kelas 2 SMP), saya merasa kesulitan untuk berteman dan juga belajar dengan baik. Terbukti saya pernah mendapat nilai 0 untuk ulangan harian matematika saya. Sedih rasanya. Sedangkan untuk tugas-tugas kelompok, seringnya saya termasuk ke dalam the leftover team (alias kumpulan siswa yang sering tidak mendapat kelompok karena satu dan lain hal).

Menginjak kelas 3 SMP saya mulai mendapat ‘tempat penyaluran’ untuk emosi saya selain melalui catatan harian, yaitu ketika adanya forum sharing alumni. Forum ini merupakan forum kecil yang diadakan oleh beberapa alumnus SMP saya secara sukarela, yang bertujuan untuk mendampingi dan menjadi tempat curhat kami, para siswa, agar kami tidak salah arah. Kebetulan nama alumni-yang mendampingi saya dan beberapa teman saya-sama dengan nama panggilan saya saat saya masih kecil; kami biasa memanggil beliau Mbak Adin. Sosok yang cantik, ramah, penyabar dan juga pengertian.

Keberadaan beliau membuat saya lebih terbuka dalam menyalurkan endapan-endapan emosi dan kesedihan saya. Beliau juga dengan sabar mendengarkan curhatan-curhatan kami dan memberikan nasihat-nasihat yang begitu berharga bagi kami. Namun sayangnya, pertemuan kami dengannya sangatlah singkat. Tanpa angin dan tanpa hujan, tiba-tiba saya dan teman-teman saya mendapat kabar duka akan kepergian beliau untuk selamanya. Rasanya kami saat itu sangat sedih dan terpukul karena kehilangan sosok kakak yang kami kagumi dan kami sayangi.

Namun, meskipun singkat, pertemuan kami cukup membawa bekas dan dampak positif pada diri saya. Di kelas 3 SMP ini, saya sudah tidak semurung saat kelas 2 dulu. Saya semakin semangat untuk belajar hingga rangking saya naik drastis, dari rangking belasan menjadi rangking enam dan tujuh.

Ketika SMA pun saya menjadi semakin semangat untuk belajar. Setiap malam saya belajar di kamar nenek saya, meskipun tidak ada PR maupun tugas. Terkadang saya baru tidur diatas jam 12 malam. Saat itu, belajar merupakan bentuk pelarian akan rasa tertekan dan kesedihan yang saya alami. Sehingga bagi saya, belajar adalah suatu kebutuhan bukan tuntutan.

Terbukti saat SMA saya beberapa kali menduduki peringkat pertama di kelas saya, dan ketika kelulusan saya berhasil menjadi juara umum (juara pertama) di sekolah saya. Tidak hanya itu, Alhamdulillah saya juga bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliah di jurusan yang saya kehendaki di UGM secara gratis dan bisa menyelesaikan studi saya disana dengan baik.

#memesonaitu

 

Sedangkan kakak perempuan saya, setelah lulus dari SMA ia membulatkan tekad untuk masuk ke pondok pesantren untuk menghafal Al-Qur’an. Dan Alhamdulillah keinginannya tersebut terkabul, masyaAllah kini ia telah berhasil menghafal al-Qur’an dan menjadi seorang hafidzah (penghafal Al-Qur’an).

Bagi saya, untuk bisa bangkit dari kesedihan itu membutuhkan waktu yang tidak singkat. Bahkan bisa hingga bertahun-tahun lamanya. Itulah mengapa, bagi saya sosok yang #Memesonaitu adalah yang mampu bangkit bahkan menjadi lebih baik lagi setelah kepergian orang tercinta. Seperti Rasulullah yang bangkit setelah kepergian orang-orang yang sangat beliau cintai (paman dan istrinya), seperti bapak B.J. Habibie yang bangkit setelah kepergian ibu Ainun, dan juga seperti suami saya yang juga dapat bangkit kembali setelah kehilangan seluruh keluarganya saat tsunami terjadi.

Untuk teman-teman yang sedang dalam kondisi sedih maupun terpuruk, berikut ini beberapa tips (yang juga saya terapkan untuk diri saya sendiri) agar bisa bangkit dan tampil lebih memesona:
1. Yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi dan menimpa kita itu adalah kehendakNya, dan pasti ada hikmah di balik setiap kejadian tersebut.
2. Bersabar atas setiap kesedihan yang menimpa, karena bersama dengan kesulitan itu pasti ada kemudahan.
3. Carilah penyaluran emosi yang tepat, misalnya dengan berdoa dan mendekatkan diri kepadaNya, menulis segala luapan hati di buku harian maupun blog, curhat dengan orang yang kita percaya, menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat, dan lain-lain.

Itulah sedikit tips dari saya agar bisa lebih memesona meskipun tertimpa ujian maupun cobaan. Semoga bisa bermanfaat untuk teman-teman ya 🙂

Kalau menurut teman-teman, arti #Memesonaitu yang bagaimana sih? Share yuk^^
#MemesonaItu

Salam,

♥Dina Safitri♥

33 thoughts on “#Memesonaitu Ketika Mampu Bangkit Dari Kesedihan Akibat Kehilangan Orang Tercinta

  1. Sampai detik ini saya masih meraba-raba bagaimana nanti kalau saya ditingggalkan oleh orang yang paling saya sayang. Apa saya masih bisa kuat dan tegar menjalaninya? tapi betul kata mbak Dina semua di dunia ini sudah digariskan oleh Allah ya.

  2. Ceritanya mengharukan, kehilangan orang2 yang disayang memang menyakitkan. Tapi untungnya mbak bisa bangkit dari kenangan pahit itu, hingga bisa mengantarkan ke juara umum. Sungguh memesona. Keren mbak tulisannya.

    1. Terima kasih mba.. iya mba, alhamdulillah, walaupun memang butuh waktu yang nggak sebentar untuk kami bisa bangkit..

    1. Peluk juga untuk mbaa.. 🙂
      Iya mba, sedih banget lihatnya.. aamiin yaa rabbal ‘alamiin.. makasih doanya mba^^

    1. Iya mba, semoga kita bisa menjadi anak yg berbakti kepada orang tua ya, baik ketika mereka masih hidup maupun setelah mereka meninggal dunia..

  3. Sedih 🙁
    Semoga kita semua bisa terus berbakti kepada orang tua ya 🙂

    Kejadian tsunami itu aku benar2 teringat, meskipun dlu cuma bisa lihat tayangannya lewat kaset. Tapi hal itu bisa jadi peringatan buat kita semua agar bisa lebih baik lagi kedepannya.

  4. Saya selalu percaya, Allah kasi ujian yang pasti bisa ditanggung oleh hambaNya, meski sulit inshaallah akan bisa melalui semua itu. Selamat ya mba, alhamdulillah kini makin berprestasi dan sukses ya mba. Tetap semangat mba Dina.

    1. Iya mba, awalnya memang berat banget ya, alhamdulillah sekarang udah mulai bisa ikhlas, insyaAllah.. walaupun kalau keinget/lagi kangen pasti sedih lagi..

  5. Hugs Mba Dina. I always believe that everything happens for a reason and rencana-Nya tak akan pernah salah untuk kita hamba-Nya. Salut untuk mba Dina yang bisa menjadikan itu sbg motivasi dan prestasi. Semangat mba 🙂

    1. Hugs juga mami ubii.. ; )
      Betul sekali mba, pasti ada alasan atas semua yg terjadi ya..
      terima kasih mba atas atensinya 🙂

  6. i feel you Dina :).. temen2ku juga banyak bgt yang hilang dan meninggal di banda aceh itu… dulu aku kuliah di Unsyiah.. tp hanya sampe 3 semester, dan kemudian dapet kesempatan ke malaysia utk kuliah di sana… waktu itu ngerasa beraaaat bgt buat pergi.. tp mantan suami ngizinin dan orangtua malah seperti maksa aku utk pergi… stlh dipikir, seandainya aku ga nurut waktu itu, pasti aku jg jd korban.. krn rumahku di sana semua rata dgn tanah..

    di situ aku baru tau dan ngerti apa maksud dari kata2, “semua akan ada hikmahnya.. mungkin kita taunya bukan sekarang, bisa makan waktu besok, sebulan, bahkan beberapa tahun kemudian” ..

    1. Mba Fanny.. peluukkk.. sedih denger ceritanya. Saudara saya jg ada yg seperti mba kisahnya, beliau sedang kuliah di jepang, ketika tsunami istri & anak2nya qaddarullah di banda aceh dan nggak selamat.. betul mba, semua pasti ada hikmahnya dan kapannya itu memang rahasia dan kuasaNya.. makasih ya mba sharingnya^^

  7. Al Fatihah untuk orang tua Mbak Dina dan para korban tsunami lainnya
    Saya dan keluarga besar juga baru ditinggal ibu mertua berpulang ke Rahmatullah seminggu lalu
    Buat saya berat, apalagi di saat bersamaan ibu saya sedang terkena stroke
    Buat suami saya pasti lebih berat
    Insyaa Allah kami kuat menjalani semua ini

    1. Iya mba Heni, terima kasih atas atensinya..
      Inalillahi wa inna ilaihi raaji’un.. turut berduka cita ya mba.. semoga amal ibadah mertuanya mba diterima disisi Allah, dan semoga ibunya mba juga diberi kesembuhan.. semoga juga mba sekeluarga Allah beri kekuatan dan kesabaran menjalaninya ya mba^^, semangat ya mba, terutama untuk ibu dan suaminya..

Hi, thanks for stopping by at mbakdina.com. Don't forget to leave your comment here, ok?^^