[KAJIAN]: Menemukan Rasa yang Hilang dalam Ibadah
Disclaimer ini pakai chatgpt ya: Berikut saya tuliskan ulang catatan kajian dari 4 foto yang Anda unggah, dengan dalil Arab yang tampak di catatan serta sumber surat/hadis yang sesuai. Saya tidak menambahkan poin materi baru di luar isi catatan, hanya merapikan, melengkapi referensi, dan menyusun ulang agar mudah dijadikan bahan poster atau ringkasan kajian.
MENEMUKAN RASA YANG HILANG DALAM IBADAH
Pemateri: Ustadz Abdullah Roy
Tempat: Masjid Nurussalam
Tanggal: 12 Juni 2026

Mukadimah
Ketika shalat terasa hambar, dzikir hanya di lisan, dan Al-Qur’an dibaca tanpa penghayatan, maka rasa dalam ibadah sedang berkurang.
Rasa yang hilang dalam ibadah adalah hilangnya kekhusyukan, yaitu hadirnya hati dan niat dalam beribadah.
1. Kekhusyukan adalah tanda orang beriman
Allah Ta’ala berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.”
Sumber: QS. Al-Mu’minun [23]: 1–2
Pelajaran:
- Ciri orang beriman adalah hadirnya hati dan kekhusyukan dalam ibadah.
- Jika shalat seseorang baik dan khusyuk, maka ibadah lainnya cenderung ikut baik.
- Shalat merupakan amalan pertama yang akan dihisab.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
Sumber: QS. Al-’Ankabut [29]: 45
2. Kekhusyukan menjadi faktor utama kesempurnaan pahala
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ مِنْ صَلَاتِهِ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُهَا، تُسْعُهَا، ثُمُنُهَا، سُبْعُهَا، سُدُسُهَا، خُمُسُهَا، رُبُعُهَا، ثُلُثُهَا، نِصْفُهَا
“Sesungguhnya seseorang selesai dari shalatnya, namun tidak dicatat baginya kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya atau setengahnya.”
Sumber: HR. Abu Dawud no. 796, dinilai hasan oleh sebagian ulama.
Pelajaran:
Kurangnya kekhusyukan menyebabkan pahala shalat menjadi sedikit.
Penyebab Hilangnya Kekhusyukan
1. Dosa dan Maksiat
Dampak dosa:
- Hati diliputi rasa takut, was-was, dan gelisah.
- Hilangnya keberkahan.
- Berkurangnya kekhusyukan.
Allah Ta’ala berfirman:
كَلَّا بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”
Sumber: QS. Al-Muthaffifin [83]: 14
Pelajaran:
Dosa meninggalkan titik-titik hitam di hati. Jika terus menumpuk, hati menjadi tertutup dan sulit merasakan manisnya ibadah.
2. Lupa Meminta Pertolongan Allah
Padahal semua taufik berasal dari Allah.
Allah berfirman:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
Sumber: QS. Al-Fatihah [1]: 5
Pelajaran:
Allah akan memberikan taufik dan kemudahan ketika seorang hamba memohon pertolongan-Nya.
3. Tidak Memahami Apa yang Dibaca
Dalam shalat, dzikir, dan bacaan Al-Qur’an, hendaknya seorang muslim berusaha memahami maknanya walaupun sedikit demi sedikit.
Contoh:
سُبْحَانَ اللَّهِ
“Maha Suci Allah”
Artinya Allah terbebas dari segala kekurangan dan sifat yang buruk.
الْحَمْدُ لِلَّهِ
“Segala puji bagi Allah”
Karena Allah memiliki seluruh sifat kesempurnaan dan seluruh nikmat berasal dari-Nya.
Allah berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ
“Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an?”
Sumber: QS. An-Nisa: 82
4. Kecintaan Berlebihan terhadap Dunia
Contohnya:
- Harta
- Jabatan
- Ketenaran
- Dan berbagai kenikmatan dunia lainnya
Hati yang terlalu penuh dengan urusan dunia akan sempit untuk memikirkan akhirat.
Solusi Agar Khusyuk Beribadah
1. Taubat Nasuha
Bersihkan hati dari dosa.
Allah berfirman:
تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
“Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.”
Sumber: QS. At-Tahrim [66]: 8
2. Dalam Setiap Ibadah Selalu Memohon Pertolongan Allah
Walaupun ibadah dilakukan setiap hari, tetap membutuhkan pertolongan Allah.
Doa yang dianjurkan:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”
Sumber: HR. Abu Dawud no. 1522, An-Nasa’i no. 1303
3. Berusaha Memahami Bacaan Dzikir dan Al-Qur’an
Targetkan setiap hari memahami makna satu dzikir, doa, atau ayat Al-Qur’an walaupun sedikit.
Allah berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ
“Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an?”
Sumber: QS. An-Nisa:82
4. Mengamalkan Sunnah dan Menjauhi Bid’ah
Sebagian orang mencari ketenangan dengan cara-cara yang tidak diajarkan syariat.
Padahal Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Sumber: QS. Ar-Ra’d [13]: 28
Termasuk menjauhi:
- Dzikir yang tidak memiliki tuntunan yang sahih.
- Menambah bentuk ibadah tanpa dalil.
- Praktik-praktik agama yang tidak memiliki landasan dari Al-Qur’an dan Sunnah.
Penutup
Rasa dalam ibadah tidak hadir dengan sendirinya, tetapi harus dijaga, dirawat, dan diperjuangkan setiap hari.
Semoga Allah mengembalikan rasa yang hilang dalam ibadah kita dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang khusyuk dalam shalat dan seluruh amal ibadah.
Aamiin.
Disarikan dari Catatan Kajian Ustadz Abdullah Roy yang dibuat versi digital melalui chatgpt
@Masjid Nurussalam 12/06/26







